Sabriyya’s lullaby ♥
The diary of you and me ♥
Minggu lalu seorang sahabat datang ke rumah untuk mengunjungi Sabriyya. Enaknya baru punya anak itu salah satunya ya ini, jadi punya alasan untuk dikunjungi teman di rumah. Reuniannya bisa dipindah ke rumah instead of mall atau tempat makan lainnya dengan alasan belum berani bawa anak keluar hahaha.. lagipun kan biasanya memang begitu ya, kalau ada teman yang baru melahirkan kita akan bela-bela in datang ke rumahnya untuk lihat si baby dan kasih kado langsung.
Oh well, kebiasaan lama deh, ngelantur ke mana-mana dulu :p Okay, yang mau saya ceritakan sebenarnya adalah ini:
So, sahabat saya ini tiba-tiba saja berkata kalau dia sedang proses devorce dengan suaminya. Jantung saya langsung deg-deg an maksimal. Maunya sih saya nggak mempercayai berita itu, karena saya kenal suaminya. I mean kami bertiga berteman. Entah memang saya yang nggak peka atau mereka yang pintar sekali menyimpan gejolak, i never saw this coming. Sahabat saya menjelaskan alasannya menggugat cerai suaminya. Saya yang mendengar penjelasannya hanya bisa mengusap dada. Berat banget ujian yang dijalaninya selama pernikahan itu.
Selama ini bayangan saya tentang punya suami adalah punya pendamping hidup. Dia yang selalu mengayomi dan menjadi imam sehari-hari. Nggak lagi sendiri, meski berjauhan tapi perasaan tidak sendiri itu selalu ada. I always wish to have a husband who can balance my life. Nggak lagi serabutan. Pokoknya punya suami itu harapannya jadi ada yang nginjek rem saat mau ngambil keputusan yang impulsif. Sedikit banyak saya dapatkan dari suami saya.
Mendengar cerita sahabat saya ini tentang bagaimana dia nggak mendapatkan kenyamanan dan keamanan hidup setelah menikah membuat saya saaangat bersyukur punya suami seperti Reza. Gejolak apapun yang ada di rumah tangga kami (oh ya tentu kehidupan rumah tangga kami ada gejolaknya juga) saya masih selalu merasa nyaman dan aman di dekat Reza. Saat itu saya jadi ingin telfon suami dan bilang terimakasih padanya karena sudah menjadi suami yang baik dan tidak psycopath. And i did.
Kemarin saat bertemu lagi dengan suami, setelah hampir 2 minggu nggak ketemu karena saya dan Sabriyya stay di Depok sedangkan suami di Rasamala, suami saya bilang begini.
“Aku jadi tau rasanya galau sejak jauhan sama kamu dan Sabriyya. Kemarin aku ngerasa capek banget di kantor sampai mikir, aku nih ngapain sih jauh-jauhan sama anak istri begini. Truss malemnya dapet telfon dari kamu bilang terimakasih sudah jadi suami yang baik. Hilang semua rasa capekku”
Memang benar yah adanya. Bahagia itu sederhana.
Akhirnyaaa.. dapet juga fotonya Sabriyya lagi nyengir :D at Jalan Puring Depok – View on Path.
It’s officially 1 week to go. I kind of confuse with my body that it can be changed a lot just within three days.
Hari kamis yang lalu bunda kontrol ke puskesmas dan semuanya baik-baik saja. Berat badan bunda stabil, hb bunda naik dan urin bunda nggak mengandung protein jahat. Tapi hari sabtunya bunda kontrol ke rumah sakit Bunda Menteng, dan tiba-tiba saja berat badan bunda naik 3 kilo. Cuma dalam waktu 3 hari? Kok bisaaaa???
Dua minggu yang lalu bahkan berat badan bunda dan baby sama-sama turun, padahal bunda nggak membatasi makan sama sekali. I am not really worry about my self, baby, bunda worry about you. I think it’s okay for me if I gain certain weight that I can lose later after your delivery. I was just worry something could affect you :(
Tp kemarin Alhamdulillahnya nggak ada tanda-tanda pemberitahuan negatif dari dokter Rizka. Hanya bunda diminta untuk sering-sering jongkok, karena sepertinya baby masih belum berhasil masuk ke jalan lahir. Maaf ya nak, dua minggu ini bunda malah jarang banget bergerak. I just don’t know where to go. Nggak ada yang bisa temani bunda, semua orang sibuk di sini.
Yuk kita mulai bergerak terus minggu ini. Since this is your last week in bunda’s belly. Can’t wait to see you in person baby. Hope Allah gives you health and a perfect everything. Bunda loves you ♥
9 days to go and still ngebolang, super preman indeed :)) – View on Path.